Di balik Penghargaan Dean’s Medal Dari Wharton School Untuk Sukanto Tanoto

Sukanto Tanoto
Image Source: RGEI
http://www.rgei.com/about/our-leadership/sukanto-tanoto

 

Kiprah Sukanto Tanoto dalam bisnis global diakui oleh dunia. Salah satu buktinya adalah penghargaan Dean’s Medal yang didapatkannya dari Wharton School.

Sukanto Tanoto (http://www.rgei.com/id/tentang-kami/kepemimpinan-kami/sukanto-tanoto)  adalah pendiri sekaligus Chairman Royal Golden Eagle. Ia dikenal sebagai salah satu pengusaha tersukses di Indonesia. Kontribusinya dalam perkembangan bisnis di negeri sangatlah besar.

Lihat saja jejak karier Sukanto Tanoto. Pria kelahiran Belawan pada 25 Desember 1949 ini menjadi pionir sejumlah industri di Indonesia. Perkembangan bidang kayu lapis, pulp dan kertas, serta kelapa sawit tidak lepas dari kontribusinya.

Sukanto Tanoto merupakan perintis dalam bidang-bidang tersebut. Ia menerjuninya ketika pihak lain di dalam negeri belum ada. Tanpa takut, Sukanto Tanoto mencoba peruntungan di bidang tersebut dengan risiko gagal yang besar.

Namun, keberaniannya itulah yang akhirnya membuat kemampuan sebagai pebisnis andal dimiliki. Royal Golden Eagle yang didirikannya dengan nama awal Raja Garuda Mas tersebut berkembang pesat. Dari perusahaan skala lokal, mereka kini telah menjadi korporasi kelas internasional dengan aset 18 miliar dolar Amerika Serikat serta karyawan mencapai 60 ribu orang.

Kesuksesan Sukanto Tanoto itu akhirnya mendapat perhatian dari The Wharton School University of Pennsylvania. Mereka memberinya penghargaan bergengsi Dean’s Medal pada 2013. Kebetulan Sukanto Tanoto juga berstatus sebagai Wharton Graduate Fellow. Ia mendapatkannya setelah lulus dari program Executive Education pada tahun 2001.

Dean’s Medal bukan penghargaan sembarangan. Ini hanya diberikan kepada orang-orang terpilih. Sebagai sekolah bisnis terkemuka dunia, Wharton School hanya memberikan Dean’s Medal kepada para pemimpin yang inspiratif.

Pertama kali diadakan pada 1983, Wharton School telah memberikan penghargaan Dean’s Medal kepada para pemimpin terkemuka di perusahaan, pelayanan publik dan akademisi. Penerima penghargaan dipilih atas kontribusi mereka terhadap pertumbuhan ekonomi global dan untuk perbaikan hidup di seluruh dunia.

Daftar penerimanya pun bukan orang sembarangan. Ada dua orang peraih Nobel, presiden dari lima negara, serta beberapa chairman serta CEO dari tiga belas negara di seluruh dunia.

Mereka semua dipilih oleh Dekan Wharton School yang deretan daftar individu dengan nilai-nilai khusus. Orang itu harus unggul di bidang manajemen, telah memberikan dampak besar dalam pencapaian kekayaaan dan nilai, serta aktif mempromosikan perdamaian dan kesejahteraan dunia.

Wharton School memang tidak bisa asal dalam menentukan peraih Dean’s Medal. Maklum saja, berdiri sejak 1881, mereka merupakan sekolah bisnis pertama di Amerika Serikat. Reputasi sebagai sekolah kepemimpinan intelektual dan inovasi berkelanjutan lintas disiplin dalam pendidikan bisnis akan dijaga.

Namun, melihat kiprah Sukanto Tanoto di dunia bisnis, Wharton School tak ragu menganugerahkan Dean’s Medal kepadanya. Mereka menilainya sebagai pebisnis cakap yang memberi dampak positif kepada masyarakat.

“Penghargaan Dean’s Medal mengakui prestasi yang luar biasa dari pemimpin bisnis global saat ini. Penerima penghargaan Dean’s Medal telah berkontribusi sangat banyak bagi komunitas mereka, dan telah mendukung berbagai lapisan masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan dan kesempatan,” ujar Dekan Wharton School, Thomas S. Robertson.

Ketika meraih penghargaan tersebut pada 2013, Sukanto Tanoto mendapatkannya bersama pebisnis asal Amerika Serikat, Alvin V. Shoemaker. Keduanya dinilai sebagai sosok inspiratif yang berkontribusi besar dalam kemajuan di masyarakatnya masing-masing.

“Saya merasa terhormat dapat memberikan penghargaan Dean’s Medal kepada kedua tokoh yang patut dicontoh ini. Hal ini merupakan bentuk penghargaan atas usaha mereka menolong orang lain agar dapat mencapai kesuksesan seperti yang mereka capai,” tambah Robertson. 

MENDUKUNG PIHAK LAIN SUKSES

Sukanto Tanoto

Image Source: Sukantotanoto.net
http://www.sukantotanoto.net/

 

Salah satu aspek yang ditekankan dalam pemberian penghargaan Dean’s Medal bukan hanya kesuksesan dalam segi bisnis. Aspek kontribusi terhadap kesuksesan pihak lain juga ditekankan. Dalam faktor ini, Sukanto Tanoto memang berperan besar.

Ia melakukannya melalui dua cara. Pertama ialah dengan memastikan semua operasi Royal Golden Eagle bermanfaat kepada pihak lain. Sukanto Tanoto memiliki cara untuk melakukan kontrol untuk menjaga hal tersebut terjadi. Ia menggariskan filosofi kerja perusahaan yang dikenal sebagai 5C.

Secara rinci, filosofi bisnis 5C terdiri dari lima prinsip, yakni good for company, good for community, good for costumer, good for country, dan good for climate. Namun, pada dasarnya, ini berisi arahan dari Sukanto Tanoto supaya operasional semua perusahaan di bawah naungan Royal Golden Eagle supaya tidak hanya bertindak untuk keuntungan perusahaan belaka. Semua juga wajib berkontribusi memberi manfaat kepada pihak lain mulai dari pelanggannya hingga negara.

Arahan ini membuat semua perusahaan di Royal Golden Eagle selalu memperhatikan kepentingan pihak lain dalam operasionalnya. Sebisa mungkin mereka menggandeng masyarakat untuk berkembang bersama.

Ada banyak cara yang dilakukan, mulai dari memanfaatkan kegiatan Community Development hingga menjadikan publik sebagai mitra. Contoh nyata cukup banyak. Asian Agri misalnya. Anak perusahaan RGE yang bergerak dalam industri kelapa sawit ini sering melatih masyarakat dalam berwirausaha.    Masyarakat diajari kemampuan memproduksi sebuah produk dan manajemennya. Mereka kemudian diberi kesempatan untuk menyuplai produknya ke APRIL. Akibatnya mereka mampu menjadi wirausahawan sukses yang membuka lapangan kerja untuk warga di sekitarnya.

Selain Royal Golden Eagle, Sukanto Tanoto juga mendirikan Tanoto Foundation. Ia mulai merintisnya pada 1981 bersama sang istri, Tinah Bingei Tanoto, dengan mendirikan sekolah di Besitang, Sumatera Utara. Akhirnya pada 2001, Tanoto Foundation resmi berdiri.

Alasan pendiriannya sebenarnya sederhana. Sukanto Tanoto memiliki impian yang belum terwujud hingga kini. Rupanya ia berharap mampu menghapuskan kemiskinan di Indonesia. Tanoto Foundation yang akhirnya dipilih sebagai sarana mewujdukannya.

Untuk merealisasikan impiannya, Sukanto Tanoto mempercayai ada tiga langkah utama. Jika dipadu dengan pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas hidup, pendidikan diyakininya sebagai solusi untuk pengentasan kemiskinan. Ini akhirnya yang membuat kegiatan Tanoto Foundation terfokus kepada tiga hal tersebut.

“Semua orang harus memiliki kesempatan untuk mencapai potensi penuh mereka. Membuat perbedaan dalam kehidupan manusia, mungkin, merupakan hal yang paling memuaskan yang bisa dilakukan seseorang,” kata Sukanto Tanoto.

Semangat filantropi ini membuat Sukanto Tanoto mendapat perhatian khusus dari Wharton School. Ia dinilai sebagai pengusaha yang tak hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Sukanto Tanoto juga peduli terhadap nasib pihak lain.

Spirit itu juga ditularkan Sukanto Tanoto kepada keluarganya. Anak-anaknya aktif dalam kegiatan Tanoto Foundation. Mereka juga ikut menjalankan Royal Golden Eagle supaya memberi manfaat kepada pihak lain.

“Semua orang harus melakukan yang terbaik di bidang masing-masing. Jika berkecimpung dalam sektor privat atau bisnis, bertindaklah dalam koridor bisnis yang bertanggung jawab. Hal itu akan lebih berdampak besar dibanding sekadar memberi dana atau kegiatan Corporate Social Responsibilty standar,” ujar salah satu puteri Sukanto Tanoto, Belinda Tanoto.

Penanaman sikap mau peduli pihak lain ini merupakan keberhasilan lain dari Sukanto Tanoto. Tak heran, Wharton School tidak ragu memberikan penghargaan Dean’s Medal kepadanya.

Leave a reply "Di balik Penghargaan Dean’s Medal Dari Wharton School Untuk Sukanto Tanoto"