Kehadiran Generasi Kedua Memberi Warna Baru di Grup yang Pernah Bernama Raja Garuda Mas Ini

build_links(); ?>
Raja Garuda Mas

 

Berdiri pada 1973 dengan nama Raja Garuda Mas, mereka kini telah bertransformasi menjadi Royal Golden Eagle (RGE). Kendali perusahaan masih ada di tangan pengusaha Sukanto Tanoto. Namun, keberadaan generasi kedua di dalamnya mulai memberi warna baru.

Sukanto Tanoto dikenal sebagai salah satu pengusaha tersukses di Indonesia. Lahir di Belawan pada 25 Desember 1949, ia mendapat julukan sebagai Raja Sumber Daya berkat keberhasilan membesarkan RGE.

Dulu Sukanto Tanoto merintisnya dengan nama awal Raja Garuda Mas. Mulanya ia hanya menekuni pembuatan kayu lapis. Namun, seiring waktu, Raja Garuda Mas terus melebarkan sayap bisnisnya. Mereka menekuni industri pulp and paper, kelapa sawit, selulosa spesial, viscose fibre, hingga pengembangan energi.

Saat ini, Sukanto Tanoto masih memegang kendali tertinggi di Royal Golden Eagle. Sebagai pendiri, ia kini mengontrol perusahaan sebagai chairman.

Tugas Sukanto Tanoto saat ini adalah menjaga masa depan Royal Golden Eagle. Ia ingin memastikan grup yang berdiri dengan nama awal Raja Garuda Mas ini terus bertahan dan semakin baik ke depan. Selain itu, ia juga mengarahkan RGE untuk meraih segala kesempatan yang ada.

“Saya menginginkan keberlanjutan. Ada banyak hal yang mesti dilakukan tapi saya tidak bisa melakukan semuanya seorang diri. Tugas utama saya kini adalah menjaga kelangsungan perusahaan dan memastikan operasionalnya bermanfaat bagi negara,” katanya.

Dengan umur yang tidak lagi muda dan skala bisnis yang semakin besar, Sukanto Tanoto memang tidak bisa menjalankan RGE seorang diri. Ia menyerahkan pengelolaan sehari-hari kepada sejumlah profesional. Bersamaan dengan itu, generasi keduanya juga mulai ikut membantu.

Putra-putri Sukanto Tanoto kini juga ada yang berkarya di Royal Golden Eagle. Tiga dari empat orang anaknya ikut mengelola perusahaan di bidang yang berbeda-beda. Mereka adalah Imelda Tanoto, Belinda Tanoto, serta Anderson Tanoto.

Ketiga orang generasi kedua keluarga Sukanto Tanoto itu mulai membantu menjalankan RGE. Namun, keberadaan mereka di sana tidak hanya dikarenakan hubungan keluarga. Lebih dari itu, semua bisa bergabung karena panggilan hati dan kapabilitas profesional masing-masing.

Lihat saja perjalanannya karier mereka. Sebelum masuk ke grup yang berdiri dengan nama Raja Garuda Mas itu, Sukanto Tanoto mewajibkan mereka untuk menimba ilmu di perusahaan lain. Hal itu penting sebagai pengalaman kerja bagi putra-putrinya.

Jadilah anak-anak Sukanto Tanoto menekuni karier di perusahaan lain. Sebagai contoh Anderson Tanoto. Ia bekerja sebagai konsultan terlebih dulu di Bain & Company sesudah lulus kuliah. Belinda Tanoto tak jauh berbeda. Ia pernah berkarier sebagai analis di Morgan Stanley sebelum terjun ke Royal Golden Eagle.

Pengalaman kerja itu terbukti berguna ketika sudah terjun di operasional RGE. Belinda Tanoto misalnya. Saat menjadi analis ia terbiasa menjalin relasi dengan klien dari Tiongkok. Hal itu ternyata terbukti berguna ketika dirinya harus memasarkan Royal Golden Eagle di Shangdong, Cina. Karena sudah terbiasa, pekerjaannya jadi berjalan lebih mudah.

Kisah itu memperlihatkan bahwa keberadaan generasi kedua Sukanto Tanoto di Royal Golden Eagle memang memberi manfaat. Mereka justru mampu memberikan warna baru di perusahaan. Semangat mudanya melahirkan spirit anyar di RGE.

Anderson Tanoto misalnya, sebagai direktur dinilai mampu mengarahkan RGE untuk berkomunikasi secara tepat di era modern. Salah satu contohnya adalah keberanian untuk menghadapi era keterbukaan informasi saat ini.

Anderson Tanoto mengubah pola komunikasi publik di Royal Golden Eagle. Ia selalu mendorong kehadiran transparansi di tubuh RGE agar publik tahu operasional perusahaan.

Putra bungsu Sukanto Tanoto ini melakukannya karena melihat RGE membutuhkan dukungan publik jika ingin terus bertahan. Ia menilai grup yang lahir dengan nama Raja Garuda Mas ini perlu menunjukkan bahwa Royal Golden Eagle dikelola secara benar dan bertanggung jawab kepada masyarakat, negara, hingga alam.

“Dengan transparansi, komunikasi dan digital approach, saya berharap RGE bisa terbuka bagi media dan masyarakat,” ujarnya seperti dikutip dari Swa.

Sebagai langkah nyata, Anderson Tanoto memosisikan diri sebagai representasi RGE di hadapan publik. Ia mau melakukan wawancara atau berdialog dengan pihak-pihak mana pun di luar perusahaan. “Kami jauh lebih terbuka sekarang. Kami mau berkomunikasi dengan para stakeholder,” katanya.

PERUBAHAN DI RGE

Raja Garuda Mas

 

Langkah yang diambil generasi kedua keluarga Sukanto Tanoto dinilai mampu membawa perubahan di tubuh RGE. Perusahaan kini tidak gagap lagi menghadapi kondisi masyarakat modern yang menuntut keterbukaan dalam segala hal.

Kini di tubuh RGE terdapat sebuah digital room. Ini adalah wadah bagi RGE untuk merancang strategi komunikasi lewat media sosial. Di sana RGE membentuk tim khusus untuk membangun ruang redaksi sendiri. Mereka bertugas membuat, mengolah dan memproduksi informasi. Bagian ini digawangi sejumlah orang mulai dari manajer media sosial, videografer, analis digital, desain grafis, penulis, manajer komunitas hingga tim distribusi konten.

Perubahan yang ada di tubuh RGE mulai disadari oleh pihak luar. Mereka menilai grup yang berdiri dengan nama awal Raja Garuda Mas ini mengambil langkah tepat dengan mengedepankan keterbukaan.

Salah satu yang mengidentifikasinya adalah pakar manajemen dan Guru Besar di Universitas Indonesia, Rhenald Kasali. Menurutnya kehadiran Anderson Tanoto berarti penting bagi Royal Golden Eagle.

“Saya mengamati dia pidato dan rapat, ia punya karakter yang kuat,” ungkapnya. Di mata Rhenald, Anderson tidak takut akan hal-hal yang berbau isu sensitif atau pemberitaan dengan konteks negatif. “Justru menurut dia harus diajak berkomunikasi dan diberi keterbukaan,” jelasnya.

Perubahan akibat kehadiran generasi kedua keluarga Sukanto Tanoto di RGE bukan hanya itu. Sebagai pemuda dengan wawasan luas, mereka semakin sadar terhadap lingkungan. Oleh sebab itu, keberlanjutan kian menjadi perhatian.

Hal ini menghadirkan pembaruan dalam filosofi bisnis di tubuh Royal Golden Eagle. Sebelumnya Sukanto Tanoto sudah menggariskan agar semua pihak di perusahaannya bertindak tidak hanya untuk keuntungan internal, melainkan juga bagi masyarakat, konsumen, serta negara. Kini arahan itu ditambah dengan aspek kepedulian terhadap lingkungan. Secara khusus, itu adalah kewajiban bagi RGE untuk menjaga keseimbangan iklim.

“Terkait masyarakat, negara, dan perusahaan yang menjadi perhatian terbesar saya, generasi kami yang berikutnya menekankan aspek iklim dan konsumen. Ini membuat filosofi bisnis 3C berubah menjadi 5C,” kata Sukanto Tanoto.

Selain memberi perubahan positif, generasi kedua tidak serta-merta menghilangkan nilai-nilai khusus di RGE. Mereka justru berupaya keras melestarikannya agar bisa dilanjutkan ke generasi berikutnya.

Contoh nyata adalah bagaimana semangat filantropi yang menjadi bagian integral keluarga Sukanto Tanoto terus disalurkan di RGE. Selain itu, putra-putri Sukanto Tanoto juga aktif di Tanoto Foundation yang didirikannya.

“Sekarang generasi berikutnya secara personal aktif memantau dan berpartisipasi dalam berbagai program Tanoto Foundation,” kata Sukanto Tanoto.

Bisa dibilang kini RGE sudah berada di jalur yang tepat. Generasi kedua bisa memberi warna baru yang positif serta menjaga nilai-nilai yang ada sejak masih bernama Raja Garuda Mas hingga saat ini.

Leave a reply "Kehadiran Generasi Kedua Memberi Warna Baru di Grup yang Pernah Bernama Raja Garuda Mas Ini"