Kontribusi Royal Golden Eagle Dalam Pengembangan Infrastruktur di Indonesia

build_links(); ?>
Royal Golden Eagle
Source: Inside RGE

 

Royal Golden Eagle (RGE) selalu ingin berkontribusi terhadap kemajuan bangsa Indonesia. Mereka sudah membuktikannya secara nyata. Salah satunya saat memberikan dukungan dalam pengembangan infrastruktur yang tengah gencar dijalankan oleh pemerintah.

Royal Golden Eagle merupakan korporasi skala internasional yang bergerak dalam bidang sumber daya alam. Didirikan oleh pengusaha Sukanto Tanoto, RGE dulu bernama awal Raja Garuda Mas. Mereka kini menerjuni beragam industri berbeda mulai dari kelapa sawit, pulp and paper, selulosa spesial, viscose fibre, dan pengembangan energi.

RGE kini telah memiliki jaringan operasi dan anak perusahaan di berbagai negara di Benua Asia, Eropa, dan Amerika. Asetnya ditaksir mencapai 18 miliar dollar Amerika Serikat dengan karyawan sekitar 60 ribu orang.

Eksistensi grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas ini tak lepas dari prinsip kerja unik yang dimiliki. Pendirinya, Sukanto Tanoto, mencetak arahan kerja yang dikenal sebagai 4C. Pada intinya, 4C merupakan panduan bagi semua unit usaha di bawah grup Royal Golden Eagle agar mampu memberi manfaat kepada pihak lain selain kepada perusahaan sendiri.

Secara khusus, Sukanto Tanoto ingin RGE mampu berguna bagi rakyat dan negara di samping ikut aktif dalam menjaga keseimbangan iklim. Harapan ini pun bukan hanya angan semata. Royal Golden Eagle telah membuktikannya dengan nyata lewat dukungan aktif dalam pengembangan infrastruktur di Indonesia.

Saat ini, Pemerintah Indonesia tengah gencar membangun infrastruktur di segenap penjuru negeri. Dana senilai 23,2 juta dollar Amerika Serikat telah dianggarkan pada 2015 untuk membangun sejumlah prasarana seperti jalan tol, pelabuhan, rel kereta, dan pembangkit energi.

Langkah pemerintah dirasa tepat. Sudah bukan rahasia lagi, kondisi infrastruktur di Indonesia kurang baik. Padahal, jika memiliki sarana dan prasarana baik, perekonomian akan terangkat sehingga rakyat bisa sejahtera.

Infrastruktur merupakan prasyarat utama bagi pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Peningkatan infrastruktur sebesar satu persen akan mampu mendorong peningkatan produk domestik bruto suatu negara sebesar 1 persen.

Selain itu, pembangunan infrastruktur juga memiliki efek berantai positif. Keberadaan prasarana yang baik dapat meningkatkan mobilitas masyarakat serta meningkatkan keterhubungan dan aktivitas ekonomi. Hasil dari kondisi itu adalah pembukaan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan sektor industri dan usaha kecil menengah.

Sedemikian penting infrastruktur, pemerintah Indonesia sampai mengajak berbagai pihak untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunannya termasuk pihak swasta. Hal itu dapat terjadi karena pemerintah sendiri tidak akan mampu melakukannya sendirian.

Ajakan ini rupanya disambut baik oleh Royal Golden EagleChairman Sukanto Tanoto malah memandang saat ini merupakan momen tepat untuk berinvestasi dalam bidang infrastruktur. Ini terkait dengan penurunan harga komoditas dan strategi jangka panjang agar bisa berkompetisi di dunia.

Pendapat Direktur RGE, Anderson Tanoto, juga senada. Ia menilai pembangunan infrastruktur memang vital sehingga harus dilakukan secepatnya. “Orang melihatnya seperti problem ayam dan telur. Tanpa infrastruktur, orang tidak akan mau berinvestasi di daerah. Tapi, tanpa investasi, infrastruktur tidak akan dibangun,” ucap Anderson Tanoto.

Kebetulan Royal Golden Eagle berpengalaman panjang dalam mengembangkan daerah pedesaan maupun kawasan terpencil menjadi daerah maju. Mereka biasanya melakukannya sejalan dengan pendirian hutan tanaman industri maupun pabrik yang kerap ada di daerah.

Banyak contoh nyata yang sudah dilakukan oleh grup yang bernama awal Raja Garuda Mas tersebut. Salah satunya di Pangkalan Kerinci, Riau. Sebelumnya Pangkalan Kerinci merupakan desa yang tertinggal.

Pada era 1990-an hanya ada 200 orang yang bermukim di sana. Namun, berkat keberadaan anak perusahaan RGE, kini Pangkalan Kerinci telah berkembang menjadi daerah modern yang dinamis. Per 2015 tak kurang dari 102.209 orang yang berdomisili di kawasan tersebut.

KONTRIBUSI NYATA LAIN

Royal Golden Eagle
Source: Go Riau

 

Kesuksesan RGE dalam memajukan Pangkalan Kerinci rupanya membuatnya semakin bersemangat untuk mengembangkan infrastruktur. Royal Golden Eagle telah membangun sendiri sejumlah prasarana yang akhirnya dapat dimanfaatkan oleh publik.

Salah satu contohnya adalah pembangkit tenaga listrik. Ini yang tengah dikembangkan oleh salah satu anak perusahaan Royal Golden Eagle, Asian Agri. Mereka membangun Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBG).

Langkah Asian Agri sangat berarti penting. Anak perusahaan RGE ini telah berkontribusi dalam penyelamatan lingkungan. Sebab, mereka mampu memanfaatkan limbah cair kelapa sawit untuk disulap menjadi sumber energi listrik.

Hingga Januari 2016, Asian Agri telah membangun lima PLTBG yang tersebar di Provinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Utara. Namun, salah satu lini bisnis Royal Golden Eagle ini berencana membangun 15 PLTBG tambahan hingga 2020 nanti.

Langkah ini merupakan bukti konkrit keberadaan RGE mampu memberi manfaat kepada masyarakat dan negara. Lihat saja, bukan hanya perusahaan, masyarakat juga menikmati manfaat PLTBG buatan Asian Agri.

Logikanya seperti ini, dalam satu PLTBG akan menghasilkan listrik 2 megawatt. Untuk operasional perusahaan Royal Golden Eagle hanya dibutuhkan 700 kilowatt. Akibatnya ada sisa 1,3 megawatt yang rencananya hendak disalurkan ke masyarakat. RGE berencana menjalin kerja sama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) dalam pelaksanaan.

“Pabrik Biogas yang didirikan Asian Agri merupakan bentuk tanggung jawab kami terhadap kelestarian lingkungan. Tidak hanya sekadar menjalankan bisnis perusahaan, kami berusaha agar limbah dari pengolahan sawit dapat menjadi sebuah hal yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan juga masyarakat,” ujar Direktur Asian Agri, Freddy Widjaya.

Selain Asian Agri, anak perusahaan RGE lainnya, APRIL Group, juga memberikan kontribusi penting dalam pengembangan infrastruktur. Melalui anak perusahaannya, PT Riau Andalan Pulp & Paper, APRIL Group kerap membangun jalan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ada banyak contoh yang bisa diajukan. Pertama adalah pembangunan jalan antara Benai-Kukok di Kabupaten Kuantan Singingi pada April 2015. Saat itu, melalui kegiatan Community Development, PT RAPP mengaspal jalan sepanjang 5 kilometer tersebut.

Manfaatnya akhirnya dirasakan oleh masyarakat. Waktu tempuh menjadi lebih singkat dan roda perekonomian di sana semakin lancar. Tak aneh, pemerintah daerah setempat memberikan apresiasi khusus.

”Terimakasih kepada RAPP yang tak bosan membantu masyarakat terutama di Kuansing seperti pembangunan jalan Benai-Kukok ini sehingga akan mempermudah akses transportasi masyarakat,” ungkap Bupati Kuansing H. Sukarmis.

Kegiatan serupa pernah dilakukan pula oleh RAPP di Kabupaten Kepulauan Meranti. Sama seperti di Kuansing, unit usaha milik Royal Golden Eagle tersebut membangun jalan poros yang menghubungkan 20 desa.

Pembangunan jalan sepanjang 12 kilometer dilakukan dalam dua tahap. Setelah selesai, manfaatnya juga dirasakan oleh warga. Air pasang yang kerap mengganggu mobilitas warga tidak terasa lagi karena jalanan yang apik.

Langkah yang dilakukan RAPP hanya sebagian dari pembuatan jalan yang pernah dilakukan oleh Royal Golden Eagle. Per 2016, grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas ini sudah membangun jalan sepanjang 12 ribu kilometer. Dari keseluruhan jumlah tersebut, 2.600 kilometer di antaranya terbuka untuk publik.

Hal tersebut merupakan bukti nyata bahwa Royal Golden Eagle telah beraksi nyata dalam memberi manfaat kepada masyarakat dan negara. Pembangunan berbagai infrastruktur adalah salah satu langkah yang dilakukannya.

Comments are closed.