Penghargaan Kebun Kelapa Sawit Berkelanjutan Diraih Perusahaan Sukanto Tanoto Dari Kementerian Kehutanan

build_links(); ?>

Sukanto TanotoImage Source: Antara

Industri kelapa sawit merupakan salah satu bidang bisnis awal yang ditekuni pengusaha Sukanto Tanoto bersama Royal Golden Eagle (RGE). Ia memulainya dengan mendirikan Asian Agri pada 1979. Selama itu banyak penghargaan yang diraih atas kinerja apik yang dijalankan.

Salah satunya penghargaan terkait pengembangan industri kelapa sawit berkelanjutan yang diraih tepat pada Hari Perkebunan pada 10 Desember 2019. Saat itu, unit bisnis Asian Agri, PT Inti Indosawit Subur (Asian Agri) mendapat apresiasi khusus dari Kementerian Pertanian (Kementan) atas komitmennya terhadap peningkatan produksi dan pembangunan perkebunan berkelanjutan.

Penghargaan diberikan oleh Direktur Jenderal Perkebunan, Dr. Ir. Kasdi Subagyono, M.Sc. di Kampus Polbangtan Malang, Jawa Timur. Adapun Asian Agri diwakili oleh Kepala Komunikasi Maria Sidabutar yang menerimanya secara langsung.

Dalam kesempatan itu, Kasdi menegaskan supaya keberlanjutan sawit Indonesia terus digaungkan dan ditunjukkan kepada pemangku kepentingan baik nasional maupun internasional. Hal ini dikarenakan kepedulian terhadap alam sangat berarti penting. Bukan hanya bagi segi bisnis, namun juga demi semua rakyat di Indonesia.

Asian Agri menyambut baik ajakan tersebut. Maria menyatakan pihaknya sudah menyampaikan pesan keberlanjutan bersama para petani mitra di Sumatera Utara, Riau dan Jambi. Proses penyampaian dilakukan dengan berbagai langkah nyata sehingga berbuah hasil yang konkret.

“Kami  mendorong peningkatan produksi sawit dengan fokus intensifikasi lahan, menggunakan benih sawit unggul Topaz dan melaksanakan praktik pengelolaan kebun yang ramah lingkungan,” kata Maria.

Keberlanjutan memang bukan hal baru bagi Asian Agri. Sebagai bagian dari RGE yang dipimpin oleh Sukanto Tanoto, kepedulian terhadap alam menjadi kewajiban utama bagi perusahaan. Tidak main-main, hal tersebut bahkan dimasukkan ke dalam filosofi bisnis RGE yang dikenal sebagai prinsip 5C.

Digagas oleh Sukanto Tanoto, filosofi bisnis 5C berisi arahan agar GE diarahkannya agar mampu berguna bagi masyarakat (Community), negara (Country), iklim (Climate), pelanggan (Customer), sehingga akan baik bagi perusahaan (Company).

Oleh karenanya Asian Agri mempraktikkan keberlanjutan dengan serius. Seperti ditandaskan oleh Maria sebelumnya, terdapat tiga langkah utama yang dilakukan Asian Agri untuk meningkatkan produksi kelapa sawit yang ramah terhadap lingkungan.

INTENSIFIKASI LAHAN

Langkah pertama dalam menjaga keberlanjutan di Asian Agri ialah dengan memaksimalkan lahan yang ada. Saat ini Asian Agri mengelola lahan perkebunan seluas 100 ribu hektar. Namun, mereka juga menjalin kemitraan dengan petani plasma yang mencakup lahan seluas 60 ribu hektar. Itu masih belum semua. Ada pula kemitraan dengan petani swadaya yang meliputi lahan seluas 41 ribu hektar.

Asian Agri berusaha meraih hasil produksi tinggi dalam lahan yang dikelolanya. Mereka tidak mau membuka lahan baru demi meningkatkan hasil perkebunan. Hal itu menjadi bagian dari Kebijakan Keberlanjutan yang ditegaskan oleh perusahaan. Di dalamnya meliputi tidak ada praktik deforestasi serta perlindungan lahan gambut.

Karena jumlah lahan perkebunannya tidak bertambah, Asian Agri melakukan pengelolaan tanaman dengan baik untuk meraih hasil yang tinggi. Mereka melakukan praktik terbaik dalam perkebunan.

Perusahaan memiliki tim Riset dan Pengembangan untuk menghasilkan solusi terbaik dalam peningkatan hasil perkebunan kelapa sawit.

Langkah ini menjadikan perkebunan Asian Agri mampu meraih hasil panen yang tinggi. Namun, praktik perkebunan terbaik tidak hanya dijalankan di areanya sendiri. Asian Agri juga menjalin kemitraan dengan para petani plasma dan petani swadaya sehingga petani juga mampu meraih hasil panen yang baik.

Sukanto TanotoImage Source: Asian Agri

PENGGUNAAN BIBIT TOPAZ

Untuk menunjang hasil perkebunan kelapa sawit yang baik, Asian Agri tahu persis bahwa bibit menjadi faktor penentu. Oleh karena itu, mereka memakai bibit-bibit berkualitas yang diperolehnya dari hasil pengembangan sendiri.

Topaz adalah bibit unggul yang dihasilkan Asian Agri Oil Palm Research Station (OPRS). Mereka telah merintis kehadiran Topaz sejak berdiri pada tahun 1996. Bibit ini memiliki sejumlah keunggulan khusus.

Bibit Topaz dikenal memberi hasil panen yang berlimpah. Per hektar rata-rata Topaz akan berbuah 32 ton. Hasil yang tinggi itu sudah muncul sejak awal panen. Bahkan masa panennya lebih cepat dari bibit lainnya.

Rata-rata bibit kelapa sawit Topaz akan menghasilkan TBS sebanyak 15-18 ton per hektar pada tahun pertama. Jumlah itu meningkat pada tahun kedua yang mencapai 19-25 ton TBS dan semakin melonjak pada tahun ketiga, 26-30 ton per hektar pada tahun ketiga.

Setelah itu, pada tahun ke-empat hingga ke-15 berproduksi, bibit kelapa sawit Topaz konsisten memproduksi TBS hingga 31-35 ton per hektar. Hasil itu dua kali lipat dari hasil produksi kelapa sawit bibit biasa.

Sudah begitu, Topaz bisa memberi hasil minyak yang besar dan rendemen minyak yang tinggi. Hal itu membuat Asian Agri mampu memaksimalkan lahannya tanpa perlu membuka perkebunan baru.

PENGELOLAAN RAMAH LINGKUNGAN

Prinsip keberlanjutan juga diterapkan secara ketat dalam pengelolaan perkebunan sehari-hari. Dalam merawat kelapa sawit, Asian Agri selalu berusaha keras meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan.

Hal itu sering ditunjukkan dengan pemilihan berbagai cara alami. Sebagai contoh terkait pengelolaan hama tikus. Asian Agri memilih memanfaatkan burung hantu yang merupakan predator alami tikus.

Berpegang pada prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT), Asian Agri memilih spesies yang bernama latin Tyto alba sebagai pengontrol populasi tikus. Dalam melakukannya, mereka membuatkan kandang di sekitar perkebunan kelapa sawit.

Oleh perusahaan Sukanto Tanoto ini, sebuah kandang yang lengkap dengan atap dibuat di atas sebuah tiang setinggi sekitar empat meter di perkebunan. Kandang itu dibiarkan terbuka sehingga burung hantu akan datang dengan sendiri. Burung itu menjadikannya sebagai sarang untuk berkembang biak.

Asian Agri mulai melakukan metode PHT ini pada 2013. Hasilnya sangat efektif. Populasi tikus berhasil ditekan sehingga hasil perkebunan tetap optimal. Bukan hal aneh karena dalam waktu satu malam, satu ekor burung hantu dapat memangsa empat ekor tikus.

Berkaca dari kesuksesan yang diraih, Asian Agri mengoptimalkan burung hantu untuk membasmi tikus. Akhirnya dipastikan ada seekor burung hantu untuk setiap 25 hektar perkebunan.

Pemanfaatan burung hantu hanya satu contoh. Masih ada langkah lain seperti penanaman bunga pukul delapan untuk mengendalikan hama ulat api. Prinsipnya hampir sama dengan kiat sukses dalam burung hantu.

Bunga pukul delapan ditanam di sekitar perkebunan sebagai rumah bagi predator alami ulat api, yakni serangga dengan nama latin Sycanus leucomesus. Serangga itulah yang akhirnya memangsa ulat api sehingga tidak merusak kelapa sawit.

Itulah tiga langkah utama yang dijalankan oleh Asian Agri demi memastikan keberlanjutan dalam operasionalnya. Semuanya masih ditambah dengan kepedulian dan dukungan terhadap masyarakat sekitar dan perlindungan hutan serta lahan gambut.

Tidak heran, Asian Agri bisa meraih penghargaan dari Kementerian kehutanan berkat pelaksanaan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam keseharian operasionalnya. Persis seperti arahan pendirinya, Sukanto Tanoto, melalui filosofi bisnis 5C.

Leave a reply "Penghargaan Kebun Kelapa Sawit Berkelanjutan Diraih Perusahaan Sukanto Tanoto Dari Kementerian Kehutanan"