Pernyataan Tentang Kewirausahaan yang Disukai Sukanto Tanoto

build_links(); ?>
Sukanto Tanoto

 

Pengusaha Sukanto Tanoto memiliki pengalaman panjang dalam berbisnis. Bersama Royal Golden Eagle, ia sukses mengarungi dunia usaha. Ia memiliki dua buah pernyataan tentang kewirausahaan yang menjadi inspirasi.

Sukanto Tanoto lahir di Belawan pada 25 Desember 1949. Ia merupakan sulung dari tujuh bersaudara dari sebuah keluarga sederhana. Ayahnya bekerja mengelola toko kecil yang menjual onderdil mobil dan minyak.

Saat ini, Sukanto Tanoto tercatat sebagai pendiri sekaligus Chairman RGE. Perusahaan ini didirikannya pada 1967 dengan nama awal Raja Garuda Mas. Kini, mereka menjadi korporasi kelas internasional dengan aset hingga 18 miliar dolar Amerika Serikat dan karyawan mencapai 60 ribu orang.

Dalam membesarkan RGE, Sukanto Tanoto telah mengalami pahit manis dunia wirausaha. Namun, ia selalu bersemangat dalam menjalaninya. Hal itu tak lepas dari dua buah pernyataan tentang kewirausahaan yang selalu mampu menjadi inspirasinya.

Pertama adalah salah satu pernyataan dari mendiang eks Perdana Menteri Inggris, Winston Churcill. Ia pernah berkata, “ Seorang pesimis akan melihat bahaya di dalam krisis, namun seseorang yang optimistis bakal melihat peluang di balik krisis tersebut.”

Secara garis besar, pernyataan ini merupakan pesan penting dalam kewirausahaan. Seorang entrepreneur dinilai mampu melihat solusi ketika orang lain hanya tahu ada masalah.

Sukanto Tanoto sangat menyukai pernyataan tersebut. Ia bahkan memiliki pendapat tersendiri terkait risiko dalam sebuah bisnis. Suami Tinah Bingei Tanoto itu berkata, “Saya selalu percaya tidak ada bisnis yang tenggelam. Semua hanya ada dalam pikiran, karena jika Anda menyerah maka Anda mati.”

Terlihat jelas bahwa Sukanto Tanoto merupakan orang yang optimistis. Ia selalu percaya bahwa kesulitan bisa diatasi dengan kerja keras. Dengan demikian, tidak ada tantangan yang tidak akan bisa dilewati.

Ia membuktikannya secara nyata dalam perjalanannya mengelola RGE. Sebagai contoh ketika krisis finansial menerpa Indonesia pada 1997. Saat ini, Sukanto Tanoto tengah membangun pabrik pulp dan kertas di Pangkalan Kerinci, Riau.

Krisis moneter menjadi pukulan yang sangat telak. Betapa tidak, ketika itu, nilai rupiah dibanding dolar AS terjun bebas. Ini memiliki implikasi yang besar. Nilai utang menjadi naik berlipat-lipat. Sebaliknya, biaya produksi ganti naik.

Belum lagi keadaan saat itu yang tengah dalam posisi membangun pabrik baru. Kejatuhan nilai rupiah membuat proses pembangunan terhambat. Banyak mesin yang dipesan tidak jadi datang. Selain itu, yang sudah ada tidak dapat dioperasikan karena tenaga ahli banyak yang meninggalkan Indonesia.

Keadaan yang serbasulit itu membuat Sukanto Tanoto tertekan. Ia bahkan sudah sempat menyatakan kepada keluarganya supaya bersiap menghadapi situasi terburuk.

Ketika itu, penutupan perusahaan dan pemutusan hubungan kerja menjadi hal biasa. Namun, Sukanto Tanoto tidak mau mengambil putusan pahit tersebut. Ia memilih untuk mencari jalan lain agar para karyawannya tidak kehilangan sumber penghidupan.

Akhirnya keputusan pahit diambil. Sukanto Tanoto merelakan aset-asetnya di Tiongkok dijual. Ia mengakuinya ini sebagai salah satu langkah terberatnya dalam berbisnis.

Dana yang diperoleh akhirnya dibawa kembali ke Indonesia. Ia menggunakannya untuk membayar utang serta meneruskan pembangunan pabrik pulp dan kertas.

Langkahnya waktu dipandang sebagai putusan riskan. Maklum saja, situasi di Indonesia masih belum jelas. Tidak ada yang tahu kapan krisis bakal benar-benar berakhir.

Namun, karena selalu mampu melihat segala sesuatu dengan optimis, Sukanto Tanoto tidak meragukan putusannya. Ia percaya bahwa segalanya akan menjadi baik. Krisis pasti bakal berakhir.

Maka, Sukanto Tanoto berani meneruskan pembangunan pabrik pulp dan kertas yang terganggu. Putusannya itu kini berbuah sukses. Perusahaannya itu, APRIL Group, berkembang menjadi salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di Asia. Per tahun, APRIL mampu menghasilkan pulp sebanyak 2,8 juta ton dan kertas sebesar 1,15 juta ton.

BISA MEWUJUDKAN MIMPI

Raja Garuda Mas

 

Sukanto Tanoto juga memiliki satu pernyataan lain yang menjadi inspirasi dalam berwirausaha. Ia menggemari salah satu petuah bijak Tiongkok tentang keberanian mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Dikatakan bahwa ide yang gila bisa menjadi visi kalau bisa diwujudkan secara nyata, namun itu hanya berupa mimpi belaka kalau gagal dibuat.

Pesan di baliknya cukup jelas. Sebagus apa pun idenya, kalau tidak diwujudkan maka sama saja dengan angan belaka. Oleh sebab itu, langkah konkret wajib dilakukan.

Hal itu rupanya menjadi pegangan Sukanto Tanoto dalam mengarungi dunia bisnis. Ia memilih membuat semua idenya menjadi nyata supaya tidak berakhir menjadi angan belaka.

Misalnya dalam bisnis kayu lapis yang sempat ditekuninya bersama RGE pada zaman dulu. Ketika itu, pengusaha di Indonesia lebih senang mengekspor kayu gelondongan belaka. Lalu, imbasnya, untuk mendapatkan kayu lapis harus impor. Padahal, harganya jauh lebih mahal.

Seketika Sukanto Tanoto langsung melihat hal tersebut sebagai peluang besar. Ia melihatnya sebagai bisnis yang bagus sehingga berencana membuat pabrik.

Namun, untuk melakukannya tidak mudah. Kerja keras dilakukannya terlebih dulu. “Lalu saya berpikir untuk membangun pabrik. Pemerintah juga appreciate, namun memang minta izinnya tidak gampang,” katanya di Bisnis.com.

Setelah izin diperoleh, Sukanto Tanoto segera tancap gas. Ia membangun pabriknya. Ia bahkan mampu menyelesaikan pembuatannya empat bulan lebih cepat dari target 18 bulan masa pengerjaan. Alhasil, pada 1973, Presiden Republik Indonesia saat itu, Soeharto meresmikannya bersama dengan para menterinya.

Kisah ini memperlihatkan bahwa Sukanto Tanoto mampu bertindak seperti seorang entrepreneur sejati. Ia bisa mewujudkan idenya menjadi nyata.

Hal itu menjadi salah satu kelebihannya. Sebab, berulang kali ia mampu membangun sesuatu baru yang mulanya belum terpikirkan sama sekali. Reputasi sebagai pionir beberapa industri di Indonesia menjadi salah satu bukti.

Sukanto Tanoto tercatat sebagai pelopor industri kelapa sawit di Indonesia. Bersama RGE, ia sudah menggelutinya sejak 1979 ketika belum banyak orang menekuninya.

Sebelumnya Sukanto Tanoto mendapat inspirasi dari perkembangan industri kelapa sawit di Malaysia. Ia merasa bisnis serupa bisa dikembangkan di Indonesia. Sebab, dalam segala aspek, terutama terkait kondisi alam, Indonesia dan Malaysia nyaris sama.

Sesudah merasa idenya menarik, Sukanto Tanoto segera melakukan kalkulasi. Ia sadar bahwa lahan di Indonesia lebih luas. Selain itu tenaga kerja lebih murah dan pasarnya hingga sepuluh kali lebih besar dibanding Malaysia. Ini segera membuatnya yakin untuk menekuni bisnis kelapa sawit.

“Setelah itu mulailah diversifikasi usaha. Saya melihat potensi kebun. Dulu swasta mana mau buka kebun (kelapa sawit, Red.). Ini kan (Sumatra) dekat Malaysia. Di sana besar-besaran buka kebun. Lalu saya hitung-hitung ini Indonesia penduduk 10 kali lebih banyak dari Malaysia, (tetapi tidak ada yang mau buka perkebunan sawit, Red.). Padahal, itu untuk bahan pangan, minyak goreng,” katanya.

Lagi-lagi langkah Sukanto Tanoto terbukti tepat. Kini RGE memiliki Apical dan Asian Agri yang merupakan pemain penting di industri kelapa sawit global. Tanpa keberaniannya mewujudkan mimpi, pencapaian itu tidak mungkin diraihnya.

Leave a reply "Pernyataan Tentang Kewirausahaan yang Disukai Sukanto Tanoto"