Royal Golden Eagle Mengubah Pembalak Hutan Menjadi Pengusaha

Royal Golden Eagle
Image Source: Jakarta Post
http://www.thejakartapost.com/adv/2017/10/09/business-success-flows-for-former-illegal.html

Kehadiran Royal Golden Eagle (RGE) di sebuah daerah terbukti mampu berdampak positif bagi warga. Salah satunya bagaimana seorang pembalak liar dapat menjadi pengusaha berkat dukungan dari mereka.

Royal Golden Eagle merupakan korporasi skala internasional yang berkecimpung dalam industri pemanfaatan sumber daya alam. Mereka didirikan oleh pengusaha Sukanto Tanoto pada tahun 1973 dengan nama awal Raja Garuda Mas.

Saat ini, RGE memiliki tujuh anak perusahaan dengan bidang industri beragam. Mereka mempunyai Asian Agri dan Apical yang bergerak dalam bidang kelapa sawit. Mereka juga punya Grup APRIL dan Asia Symbol yang berkecimpung dalam produksi pulp dan kertas serta Pacifif Oil & Gas yang menekuni pengembangan energi. Dua anak perusahaan lain, Sateri dan Bracell, bergerak dalam bidang selulosa spesial dan Serat viscose.

Berkat itu semua, Royal Golden Eagle ditaksir memiliki aset senilai 18 miliar dolar Amerika Serikat. Selain itu, grup yang berdiri dengan nama Raja Garuda Mas ini mampu membuka lapangan kerja untuk sekitar 60 ribu orang.

Berkat kesemuanya, manfaat keberadaan RGE sudah terlihat jelas. RGE juga menghadirkan berbagai dampak positif lain khususnya bagi masyarakat di sekitarnya.

Contoh nyata adalah Grup APRIL. Melalui unit operasionalnya, PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP), mereka mampu mengusahakan kesejahteraan bagi warga di sekitar basis produksinya di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Salah satu yang mendapatkan manfaat tersebut adalah Mahyudin Pasaribu. Pria asal Pangkalan Kerinci ini mampu mengubah hidupnya secara drastis berkat dukungan RAPP.

Sebelumnya Mahyudin tidak memiliki pekerjaaan tetap. Ia akhirnya sering menjadi seorang perambah hasil hutan. Akibatnya Mahyudin cukup sering meninggalkan keluarganya untuk masuk ke dalam rimba.

“Dulu, saya hanya bisa menghabiskan waktu bersama anak-anak seminggu sekali karena saya lebih sering berada di dalam hutan. Sekarang saya bisa pulang setiap hari dan mempunyai sumber penghasilan tetap,” katanya seperti dikutip  The Jakarta Post.

Kehidupan Mahyudin memang berubah menjadi lebih baik. Lulus dari Sekolah Menengah Atas pada 1993, kemampuan bekerja yang terbatas membuatnya tidak memiliki pilihan lain untuk memperoleh penghasilan. Ia pergi ke hutan untuk mengambil apa saja yang ada di sana untuk dijual.

Kala itu, tidak terpikir sama sekali di benak Mahyudin bahwa tindakannya salah. Ia sekedar mengikuti orang-orang lain yang melakukan hal serupa. Padahal, selain ilegal, bekerja menjadi pembalak kayu liar berpotensi merusak alam.

“Zaman dulu, menebang pohon di hutan bukan masalah dan tidak dilarang. Kami mencari uang dengan menebang pohon, mengumpulkan rotan, serta apa saja di dalam rimba yang bisa dijual. Menjual kayu gelondongan hanya musiman ketika ada tauke (bos, Red.) yang meminta. Jika tidak ada itu, kami hanya mencari ikan,” cerita Mahyudin.

Hasil bekerja sebagai pembalak liar di hutan cukup besar. Sekali menebang pohon, Mahyudin bisa menghasilkan Rp100 juta. Namun, hal itu tidak dapat dijadikan sandaran hidup karena tidak setiap bulan ada permintaan kayu. Uang itu pun masih dibagi ke kelompoknya yang berjumlah sekitar 20 orang.

Selain itu, keterbatasan pemahaman manajemen uang membuat penghasilannya hilang tak berbekas. “Saya tidak tahu cara mengelola uang. Ketika ada uang lebih, saya menghabiskannya untuk hal-hal yang tidak penting,” kata Mahyudin.

Nasib buruk bahkan pernah menghampiri Mahyudin. Sejak 2002, aturan mengambil hasil hutan termasuk menebang kayu diperketat. Hal ini membuat Mahyudin dan rekan-rekannya semakin kesulitan mendapatkan penghasilan.

Perubahan aturan itu juga membuat Mahyudin mengalami nasib nahas. Pada 2004, ia pernah dipenjara selama tiga minggu oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau karena menebang pohon secara ilegal di dekat area konsesi PT RAPP.

Pengalaman pahit tersebut membuat Mahyudin gundah. Ia segera berpikir untuk mencari mata pencaharian baru untuk menghidupi keluarganya.

MENDAPAT DUKUNGAN ANAK PERUSAHAAN RGE

Royal Golden Eagle
Image Source: Jakarta Post
http://www.thejakartapost.com/adv/2017/10/09/business-success-flows-for-former-illegal.html

Upaya mencoba mengubah hidup yang dilakukan oleh Mahyudin tidak mudah. Ia tidak memiliki keterampilan kerja tertentu yang memudahkannya mencari pekerjaan baru. Hal ini sempat menjadi pikiran berat bagi Mahyudin.

Akan tetapi, Mahyudin sudah kapok bekerja menjadi pembalak liar. Ia benar-benar ingin mendapatkan gantungan hidup baru. Akhirnya ia mendatangi RAPP untuk mencari pekerjaan.

Di sana Mahyudin berharap mendapat kesempatan kerja. Ia bahkan mau menjalankan pekerjaan apa pun agar tidak kembali menjadi penebang pohon liar di hutan.

Mahyudin akhirnya menawarkan diri untuk menjadi pengemudi perahu untuk RAPP meski tidak memiliki perahu. Permintaannya itu dipenuhi oleh RAPP. Unit bisnis bagian APRIL tersebut mengizinkannya untuk mengantar para karyawannya bekerja dengan menggunakan perahu.

“Saya mendapat ide setelah melihat kapal pompong milik perusahaan berlayar melewati kanal untuk mengangkut kayu. Kendaraan bermotor hanya bisa melewati jalan di pinggir area konsesi. Jadi, banyak orang yang menggunakan kanal sebagai alternatif,” kata Mahyudin. “Sepertinya ini pekerjaan yang cocok buat saya karena saya merasa nyaman bekerja di kanal. Jadi, saya melihat ada kerja sama saling menguntungkan antara saya dan RAPP.”

Segera sesudahnya, Mahyudin menghubungi lima orang tetangganya yang memiliki perahu. Ia menawari kesempatan kerja tersebut dan dirinya menjadi koordinator. “Saya akhirnya dipercaya mengelola lima buah perahu. Mulanya itu hanya percobaan,” katanya.

Mulanya Mahyudin merasa keteteran. Ia kaget karena harus mengikuti ritme kerja di anak perusahaan RGE tersebut. Biasanya dirinya tidak pernah diatur. Ia hanya bekerja sesukanya asal bisa mendapatkan uang.

“Saya harus bekerja dengan mengikuti kecepatan kerja perusahaan dan disiplin finansial seperti mereka. Perusahaan juga mengharuskan kami berhubungan dengan bank. Hal itu terasa berat bagi kami yang hanya biasa bernegosiasi dengan tauke. Tapi, saya percaya pekerjaan baru ini akan memberi penghidupan yang layak bagi keluarga saya. Teman-teman dan saya bekerja keras agar mendapat kepercayaan dari perusahaan,” ujar Mahyudin.

Berkat itu, usaha Mahyudin berkembang. Ia pun mendirikan CV Mitra Pelalawan Setia dengan mempekerjakan para pemilik perahu sebagai karyawan. “Tahun demi tahun berlalu. Pada 2012, perusahaan kami berkembang. Dari perusahaan dengan lima kapal pompong, kami sekarang memiliki aset kapal cepat 15 PK, 28 kapal pompong, dan dua buah mobil,” papar Mahyudin.

Bukan hanya itu, perusahaan Mahyudin kini mampu mempekerjakan 47 karyawan. Kapal pompong yang dimiliki disewakan kepada RAPP sebagai sarana transportasi karyawan dan melaksanakan pekerjaan di Pelalawan. Per bulan, ia mendapat kontrak senilai Rp250 juta. “Sesudah dipotong biaya produksi, pendapatan bersih per bulan Rp50 juta,” kata Mahyudin.

RAPP sejatinya mampu mengelola sendiri kapal untuk mengangkut para karyawannya. Namun, unit bisnis bagian dari Royal Golden Eagle tersebut memilih menjalin kerja sama dengan pihak luar. ‘

“Kami menjalin kerja sama agar masyarakat di sekitar area operasi perusahaan juga berkembang. Ini terkait pemberdayaan. Kami tidak memfasilitasi mereka, namun melatih dan membimbing mereka supaya bisa memenuhi syarat sebagai perusahaan baru,” ujar Manajer Community Development RAPP, Marzum.

Sebagai bagian dari grup Royal Golden Eagle, RAPP memang berkewajiban memberi dukungan kepada pihak lain untuk berkembang. Hal itu sesuai dengan nilai kerja perusahaan agar berguna bagi masyarakat dan negara.

Leave a reply "Royal Golden Eagle Mengubah Pembalak Hutan Menjadi Pengusaha"